Belajar Menjadi Akademisi Sejak Bangku Madrasah Melalui Karya Tulis Ilmiah

scheduleRabu, 4 Februari 2026

Guyangan — Bolak-balik laboratorium, mengulang uji coba, memperbaiki data, lalu duduk berhadapan dengan penguji untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitian. Itulah sekelumit proses yang dilalui sebagian santri kelas XII Madrasah Aliyah Raudlatul Ulum Guyangan dalam penyusunan karya tulis ilmiah mereka.

Pengalaman tersebut mengemuka dalam sidang karya tulis ilmiah yang mulai dilaksanakan pada Rabu, 4 Februari 2026, bertempat di Ruang MGMP Gedung MA Pesantren Raudlatul Ulum. Sidang ini menjadi salah satu tahapan akhir yang wajib dilalui santri kelas XII sebagai syarat kelulusan.

Bagi Arina Irfana dan Khilda Ulin, santri dengan tema Inovasi Pemutih Pakaian Berbasis Garam Menggunakan Metode Elektrolisis, proses penelitian menjadi tantangan tersendiri.

“Yang paling susah itu penelitiannya. Kami harus berkali-kali ke laboratorium, mengecek kandungan kimia, uji coba lagi, lalu mengulang sampai datanya benar-benar layak,” ungkap keduanya. Meski melelahkan, mereka sepakat bahwa proses panjang tersebut sebanding dengan hasil yang diperoleh. Penyusunan karya tulis ini benar-benar terasa seperti miniatur skripsi, karena data yang diambil harus valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pengalaman berbeda namun tak kalah menantang dirasakan santri lain yang mengangkat tema ekstrak cacing sebagai jamu tradisional untuk penyakit tifus. Ia harus melakukan wawancara langsung dengan produsen, mempelajari proses budidaya cacing, hingga memahami tahap pengolahan menjadi jamu tradisional. Proses ini menuntut keberanian ekstra, mengingat tidak semua orang nyaman berinteraksi dengan objek penelitian tersebut. Namun justru dari sanalah kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri santri terasah.

Beragamnya pengalaman tersebut tidak terlepas dari sistem penyusunan karya tulis ilmiah yang dirancang secara bertahap oleh madrasah. Sejak awal semester kelas XII, santri telah mendapatkan sosialisasi terkait penulisan karya tulis ilmiah. Mereka mengajukan beberapa opsi judul, kemudian satu judul disetujui sekaligus ditetapkan guru pembimbing. Selama satu semester penuh, santri menjalani proses bimbingan intensif, tahap demi tahap revisi, sebelum akhirnya mengikuti sidang di semester keenam.

Karya tulis yang dihasilkan pun mencerminkan keragaman minat dan pendekatan keilmuan santri. Tidak terbatas pada rumpun sains atau sosial secara umum, tema-tema yang diangkat bersifat multidisiplin. Mulai dari kajian gramatikal bahasa Arab, sosial-humaniora, pendidikan, bisnis, hingga kimia organik dan sains pangan. Sejumlah karya bahkan berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari santri, seperti analisis kandungan gizi menu kantin pondok, minat dan bakat santri dalam melanjutkan pendidikan tinggi, serta evaluasi metode pembelajaran di kelas.

Metode penelitian yang digunakan pun beragam. Ada yang melakukan observasi lapangan, penyebaran angket, wawancara, hingga penelitian laboratorium di Lab IPA Pesantren Raudlatul Ulum. Di sisi lain, sebagian santri memilih pendekatan studi literatur dan dokumenter, seperti kajian sejarah Indonesia, sejarah kebudayaan Islam, maupun analisis pemikiran tokoh terhadap isu tertentu.

Menariknya, tidak seluruh karya tulis disusun dalam bahasa Indonesia. Sejumlah santri menulis karya ilmiahnya dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, dengan tema-tema seperti:

دراسة نحوية حول الإعراب التام في كتاب فتح القريب باب الصلاة (Analisis Kajian Nahwu Kitab Fathul Qarib Bab Sholat) dan The Influence of Interactive Learning Media in English Language Teaching (Pengaruh Media Pembelajaran Interaktif dalam Pembelajaran Bahasa Inggris). Tantangan semakin besar karena seluruh karya tulis disusun secara tulis tangan, sesuai kaidah kebahasaan masing-masing bahasa.

Pelaksanaan karya tulis ilmiah di MA Raudlatul Ulum sejatinya bukanlah hal baru yang muncul tahun ini. Sejak tahun-tahun sebelumnya, tradisi penulisan karya ilmiah telah menjadi bagian dari proses pendidikan di madrasah. Seiring berjalannya waktu, bentuk, pendekatan, dan mekanismenya terus berkembang, menyesuaikan dengan perkembangan zaman, kebutuhan pembelajaran, serta karakter dan kemampuan santri yang beragam.

Perkembangan ini menunjukkan komitmen madrasah dalam menjaga ruh keilmuan sekaligus bersikap adaptif terhadap perubahan. Dari sinilah identitas MA Raudlatul Ulum sebagai Madrasah Riset tumbuh dan menguat, madrasah yang tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga membiasakan santri untuk berpikir sistematis, kritis, dan bertanggung jawab secara akademik sejak bangku sekolah.

Pelaksanaan sidang karya tulis ilmiah berlangsung secara tertutup demi menjaga fokus peserta dan kondusivitas kegiatan. Setiap sesi dihadiri oleh tim penyusun karya tulis, baik yang berpasangan maupun yang menyusunnya secara mandiri, bersama tiga orang penguji. Di dalam ruang sidang, santri tidak hanya diuji kesiapan akademiknya, tetapi juga ditantang menunjukkan keterampilan komunikasi, kedisiplinan waktu, serta kemampuan menyampaikan gagasan secara runtut dan meyakinkan. Kreativitas santri turut terlihat dari media presentasi yang digunakan, mulai dari tayangan PowerPoint, dokumen PDF, video pendukung, hingga produk hasil penelitian. Setelah presentasi, penguji mengajukan pertanyaan untuk menggali pemahaman santri terhadap proses penelitian, pembagian peran dalam tim, ketepatan metode, serta validitas simpulan yang disampaikan.

Usai keluar dari ruang sidang, raut wajah santri menunjukkan ekspresi yang beragam. Ada yang menghela napas lega setelah mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan baik, ada yang berlinang air mata karena tekanan dan kelelahan yang akhirnya terlepas, serta ada pula yang tersenyum bahagia karena berhasil melewati salah satu fase penting dalam perjalanan akademiknya. Perbedaan ekspresi tersebut menjadi potret nyata bahwa sidang karya tulis ilmiah bukan sekadar forum penilaian, melainkan ruang pembelajaran yang melibatkan emosi, kedewasaan, dan ketangguhan mental santri.

Kepala MA Raudlatul Ulum, Gus Moh. Nabil, Lc., Dipl., MHPM, menjelaskan bahwa karya tulis ilmiah ini dimaksudkan sebagai latihan awal agar santri memiliki pengalaman akademik yang utuh.

“Target kami bukan kesempurnaan. Yang terpenting, santri familiar dengan proses penulisan ilmiah, memahami apa yang ditulis, mampu mempertanggungjawabkannya, serta berani mempresentasikannya di depan penguji. Hasilnya justru di luar dugaan. Banyak santri menunjukkan kesungguhan dan kualitas yang sangat baik. Saya yakin ini menjadi bekal penting bagi mereka untuk memasuki dunia perkuliahan,” ujarnya.

Setelah sidang dinyatakan selesai, santri masih diwajibkan melakukan revisi apabila terdapat catatan perbaikan dari penguji. Seluruh karya tulis ilmiah kemudian dihimpun dan disimpan dalam e-perpus pesantren. Sebagai bentuk apresiasi dan motivasi, sepuluh karya terbaik akan dipublikasikan di laman resmi pesantren dalam bentuk jurnal.

Pandangan serupa juga disampaikan salah satu penguji sidang. Ia menilai bahwa kualitas karya tulis yang disidangkan memang beragam. Ada karya yang tergolong “sangat bagus” untuk standar kelas XII, ada pula yang berada pada kategori “normal”. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar, mengingat kemampuan akademik setiap santri tidaklah sama. Namun demikian, terlepas dari variasi kualitas tersebut, fakta bahwa seluruh karya tulis dapat diselesaikan hingga tahap sidang sudah menjadi capaian yang patut diapresiasi. “Ini mengingatkan saya pada proses penyusunan skripsi di bangku kuliah. Bedanya, ini dilakukan di tingkat sekolah. Dengan sistem seperti ini, saya yakin lulusan MA Raudlatul Ulum bukan sekadar lulusan biasa,” ungkapnya.

Pada akhirnya, sidang karya tulis ilmiah menjadi pengalaman yang meninggalkan jejak bagi para santri. Bukan semata karena dinilai atau diuji, tetapi karena di dalamnya mereka belajar berproses, mulai dari menyusun gagasan, jatuh bangun mencari data, bekerja bersama rekan, mengatur waktu, hingga berani menjelaskan hasil pikirannya sendiri. Pengalaman seperti inilah yang pelan-pelan membentuk kesiapan mereka menghadapi dunia akademik setelah madrasah. Melalui tradisi karya tulis ilmiah yang terus berkembang dari tahun ke tahun, MA Raudlatul Ulum Guyangan menegaskan perannya sebagai Madrasah Riset: ruang belajar yang membiasakan santri berpikir jernih, bertindak bertanggung jawab, dan membawa adab dalam setiap proses keilmuan yang mereka jalani.


***


Galeri:




Tim Redaksi

Kunjungi konten kami juga di:

Instagram Reels: Sidang Munaqosyah Karya Tulis Ilmiah Kelas XII